-->

SIPITUAMA

"Sistem Informasi Penyajian Ilmu Teknologi, Uni Akademis, dan Manajemen Administrasi"

MUAL DAN LIANG DATU PARNGONGO


Seperti halnya Ompu Sijolo-jolo tubu yang lain dan sebelumnya, Datu Parngongo konon adalah Datu Bolon atau Dukun Sakti Mandraguna. Begitu tinggi kesaktian yang dimiliki, sehingga pada suatu saat, ia tanding kesaktian ke Barus. Dalam perjalanan pulang dari tanding kesaktian tersebut, sampailah ia di Pollung di Humbang Hasundutan sekarang. Saat berjalan sendirian, didengarnyalah sayup-sayup dendang putri Raja Pangisi (marga Lumban Gaol) bernama Tagannahabuloan.
Ia berjalan menuju asal nyanyian, tetapi ia tidak dapat melihat si penyanyi. Karena begitu penasaran, ia pun mencari-cari dan bertemu dengan raja Pangisi. Sang raja bertanya, “ mau apa kamu ke kampung kami ini?” “hanya jalan-jalan, amang,” kata datu Parngongo menjawab sambil menyembunyikan rasa ingin taunya, siapa sipenyanyi. Kemudian Raja Pangisi mengajaknya kerumahnya. Gadis itupun menyanyi lagi. Datu Parngongo begitu terlena dan hanyut oleh indahnya suara si penyanyi, tetapi wajahnya belum terlihat, walaupun sumber suara berada di dekatnya.
Karena sudah tidak tahan dengan rasa penasaran, Datu Parngongo bertanya kepada Raja Pangisi, katanya, “maaf, bapak Raja. Dimana gerangan putri raja yang menyanyi itu? Saya ingin melamarnya.” Tetapi Raja Pangisi menjawab, “saya tidak sanggup memenuhi permintaanmu, Nak, kalau kita tidak mengadakan sumpah (marbulan) terlebih dahulu bahwa engkau tidak akan menyia-nyiakan putriku nanti.”
Pada saat mereka berdua sedang asyik ngobrol, nyanyian si gadis semakin menggoda, yang membuat perasaan Datu Parngongo semakin hanyut dan tidak mampu menolak persyaratan Raja Pangisi. Ia pun setuju untuk mengadakan sumpah.
Kemudian Raja Pangisi memanggil putrinya. Betapa terkejutnya Datu Parngongo, karena sang putri hanya seukuran jagung berkulit, baik besar maupun panjangnya. Tetapi karena sumpah sudah terucap, Datu Parngongo tidak bisa menghindar untuk tidak menikahi sang putri. Merekapun dikawinkan Raja Pangisi. Setelah upacara perkawinan selesai, putri Tagannahabuloan pun dibawa Datu Parngongo ke Tamba Na Godang, kampung ayahnya. Karena ukuran badannya yang demikian kecil, ia pun dimasukkan Datu Parngongo ke dalam tas gendong (salipi).
Karena Datu Parngongo adalah dukun sakti, setelah tiba dikampungnya, ia berniat menempa istrinya kembali. Semua kebutuhan dipersiapkan, yaitu kurban, tikar tujuh lapis, ulos ragidup. Kemudian ia pun berdoa kepada Ompu Mula Jadi Na Bolon dan Ompu Sijolo-jolo Tubu. Setelah doa selesai dipanjatkan dimasukkannyalah istrinya ke dalam periuk besi yang sudah dipanaskan. Kemudian meloncatlah seorang gadis dari periuk besi ke atas ulos ragidup, sementara kulitnya sebagian berubah menjadi emas dan sebagian lagi menjadi ular periuk (Ulok Balanga) yang menempati separoh rumah panjang Datu Parngongo.
Kemudian Datu Parngongo mencari nama baru bagi istrinya, yaitu siboru Hapaspinilian. Kalau ada yang menatapnya akan hilang ingatan. Kabar penempaan sang putri pun sampai ke telinga Raja Pangisi yang membuatnya marah dan geram, demikian juga dengan seisi kerajaannya. Raja Pangisi pun mengumpulkan semua pasukannya, termasuk harimau, untuk menuntut Datu Parngongo.
Mendengar rombongan Raja Pangisi datang membawa pasukan perang termasuk harimau, dengan tenang Datu Parngongo datang menjemput ke Padang dan diajak ke kampungnya. Tetapi karena Raja Pangisi datang dengan amarah, ia meminta agar putrinya yang datang menjemputnya. Pesan itupun disampaikan kepada Siboru Hapaspinilian.
Kemudian Siboru Hapaspinilian datang bersama ular periuk menjemput kedatangan ayahnya. Melihat putrinya sudah lain, Raja Pangisi tidak mau mengakui kalau yang dihadapannya adalah putrinya, betapapun mereka mencoba meyakinkannya.
 Karena itu Raja Pangisi berkata, “Pinsur Ulu Ni Sulum, sulun do sulum hian. Boha pe roa di boru, boru do boru hian. Uli pe rupam, huida ndang todoonku ho gabe borukku.” Artinya sekalipun putrinya jelek, Raja Pangisi tidak mau menerima begitu saja Siboru Hipaspinilian sebagai putrinya.
Singkat cerita Datu Parngongo dan istrinya memiliki tujuh anak. Pada suatu saat, Datu parngongo mengumpulkan anak-anaknya dan menanyakan keinginan mereka masing-masing. Dari ketujuh anak Datu Parngongo hanya keinginan anak bungsunya yang bernama Marhata Ulubalang yang dipenuhi oleh Datu Parngongo. Sehingga timbul rasa cemburu dalam pikiran anak-anaknya yang tidak mendapat restu dari ayah mereka.
 Akhirnya mereka sepakat membuang Datu parngongo ke suatu jurang yang dalam sekali. Tetapi rencana anak-anaknya itu sudah terlebih dahulu diketahui oleh Datu Parngongo. Oleh karena itu Datu Parngongo berpesan kepada anaknya yang paling bungsu, “Kalau memang mereka ingin membuang aku ke jurang, kamu pura-pura iktu membantu mereka.” “Tetapi kamu harus punya akal untuk membuat sebuah peti dan masukkanlah seekor kambing kedalamnya. Karena ketika peti tersebut dimasukkan kedalam jurang, kambing tersebut akan bersuara sehingga mereka mengira bahwa yang adalah dalam peti adalah aku dan berpikir bahwa aku sudah mati.” Sebelum rencana anaknya terjadi Datu parngongo telah membuat lobang yang sangat dalam sebagai tempat persembunyian dan membuat “Mual Parangir-angiran” juga sebagai temapt memasak.
Gua batu itulah yang disebut dengan Liang Ni Datu Parngongo. Dekat ke gua itu ada pula mata air. Mata air inilah yang dipakai Datu Parngongo selama dalam persembunyiannya. Mata air itu disebut Mual Ni Datu Parngongo.

Saribu raja dan siboru pareme sebenarnya kakak beradik kandung (namariboto) pada masa itu jumlah manusia masih sedikit. Saribu raja mencintai adiknya sama seperti mencintai gadis lain. Keduanya terlanjur seperti suami istri, sehingga siboru pareme mengandung anaknya Saribu Raja. Mengetahui keadaan itu, saudaranya yang lain sagala raja, dan malau raja sangat murka dan berupaya membunuh kedua saudaranya saribu raja dan siboru pareme. Tetapi saudaranya itu tidak tega membunuh saribu raja dan siboru pareme. Akhirnya mereka sepakat membuang mereka ke tengah hutan atau tombak longo-longo secara terpisah. Siboru pareme dibuang ke wilayah ulu darat di atas sabulan dan saribu raja dibuang jauh kearah barat (Barus).

0 komentar:

Post a Comment

;}

Google.com

Support

VIDEO

SPEKTAKULER