-->

SIPITUAMA

"Sistem Informasi Penyajian Ilmu Teknologi, Uni Akademis, dan Manajemen Administrasi"

BATU BOLON SITAPITAPI


Batu bolon sitapi-tapi atau sering disebut sebagai batu parpadanan terletak di Sitapi-tapi/ Sibuhamata dusun I, Desa Sabulan, Kecamatan Sitio-tio. Batu bolon Sitapi-tapi terletak di kawasan ulu darat.
Legenda Batu Bolon Sitapi-tapi adalah sebuah legenda yang mengalami proses yang sangat panjang, yang dimulai dari legenda sepasang putra-putri Ompu Guru Tatea Bulan dengan Siboru Sakti atau Sibaso Bolon yakni Tuan Saribu Raja dan Siboru Pareme yang memadu kasih terlarang sehingga siboru pareme hamil.
Demikianlah terjadi, Siboru Pareme dibuang adik-adiknya ke Ulu Darat. Disanalah, melalui penelusuran kulit padi, Tuan Sariburaja menemukannya. Sebelum adik-adiknya kembali ke parik sabungan, mereka mengucap sumpah dan janji dengan bulan sebagai saksi bahwa mereka tidak akan pernah menceritakan hal itu kepada siapapun, termasuk ayahanda mereka yang ditinggal sang istri Siboru Sakti yang telah kembali ke Banua Ginjang karena mengenakan baju terbangnya saat Guru Tatea Bulan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Sumpah dengan bulan sebagai saksi itulah munculnya kata “Sa-Bulan” sehingga mereka yang melakukan hal yang sama disebut “marsabulan” atau bersumpah.
Karena tidak ada air di puncak Ulu Darat, Tuan Sariburaja dan Siboru Pareme mencari tempat tinggal bagi mereka di dataran di bawah puncak ulu darat. Pada saat perjalanan itulah mereka dicegat Babiat Sitelpang (Harimau Timpang) yang meminta mereka mengeluarkan tulang yang tersangkut di kerongkongannya.
Babiat Sitelpang meminta Siboru Pareme mengambil tulang yang tersangkut di kerongkongannya sambil berkata “Apabila anak yang engkau kandung adalah anak laki-laki, maka ia akan menjadi Datu Bolon (Dukun Sakti Laki-laki). Jika ia adalah anak perempuan, maka ia akan menjadi Sibaso Bolon (Dukun Sakti Perempuan).
Didaratan inilah mereka mendirikan pondok dan tempat itu disebut Banuaraja atau Baniaraja, yang artinya adalah tempat lahirnya raja-raja. Hanya sebulan berselang, setelah yakin akan perhatian Babiat Sitelpang terhadap Siboru Pareme, Tuan Sariburaja pun pergi meninggalkan Siboru Pareme sendirian bersama anak di dalam kandungannya di Banuaraja dengan pesan , apabila anaknya lahir harus diberi nama Raja Lontung dan kepadanya diserahkan sebuah cincin yang disebut Tintin Sipajadi-jadi, yang dititip kepada Siboru Pareme, jika saatnya tiba, Raja Lontung akan mencari dan menemukan Tuan Sariburaja dengan perantaraan cincin tersebut.
Sejak itu, hanya Babiat Sitelpang yang mengurus Siboru Pareme. Dan setelah Putranya lahir, yang dinamai Siraja Lontung, beruang madupun ikut memelihara mereka dengan membawa madu. Itu sebabnya putranya diberi nama Siraja Lontung atau Siraja Altong, karena sejak lahir ia sudah berkerabat dengan Altong atau lebah hutan. Konon, beruang hutan inipun termasuk wujud lain dari Raja Uti (Abang Siboru Pareme), yang sengaja tidak pernah memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya kepada itonya, Siboru Pareme.
Setelah Siraja Lontung menginjak dewasa, Ibunya Siboru Pareme, menyuruhnya kekampung halaman pamannya di Sianjur Mula-mula di bawah Gunung Pusuk Buhit untuk mencari putri pamannya yang menjadi istrinya, agar ada teman mereka. Karena Siraja Lontung adalah anak yang berbakti kepada Ibundanya, Siraja Lontung pun mengiyakan permintaan Ibundanya. “Baik, Bu. Saya akan berangkat,” sahutnya kepada ibunya dengan tulus hati.
Sebelum Siraja Lontung berangkat, Ibundanya berpesan bahwa putri pamannya akan ditemuinya di sebuah mata air bernama Pansur Jabi-jabi Sipitu Dai. Dipesankan pula bahwa paras maupun rambut putri pamannya persis seperti paras dan rambut ibundanya. Kepada Siraja Lontung pun diberikan sebuah cincin, yaitu Tintin Sipajadi-jadi, dengan pesan, apabila Siraja Lontung sudah menemukan gadis dengan ciri-ciri tersebut, maka Siraja Lontung harus mencocokkan cincin itu dengan jari gadis tersebut. Jika cocok, itulah putri pamannya yang menjadi pilihan hati Ibundanya Siboru Pareme. Setelah memahami petunjuk Ibundanya, Siraja Lontung pun berangkat membawa bekal secukupnya.
Siraja Lontung tidak tahu bahwa setelah ia pergi meninggalkan Banuaraja, Ibundanya pun berangkat ke Sianjur Mula-mula dengan mengambil jalan lain sehingga mereka tidak bertemu di jalan. Kalau Siraja Lontung datang melalui punggung bukit, Siboru Pareme datang lewat lembah Harian ke Sianjur Mula-mula, sehingga yang duluan sampai ke Aek Sipitu Dai adalah Ibundanya, Siboru Pareme.
Setelah siboru Pareme sampai di mata air itu, ia pun berdoa kepada Ompu Mula Jadi Nabolon dan Ibundanya, Sibaso Bolon, agar wajahnya kembali lebih muda seperti wajah gadis muda pada umumnya, agar Siraja Lontung tidak mengenalinya sebagai Ibundanya. Permohonannya dikabulkan dan kemudian Siboru Pareme keramas di Aek Sipitu Dai. Hingga sekarang masih terdapat di Aek Sipitu Dai batu tempat paranggiran Siboru Pareme tersebut dengan tujuh lubang dipermukaan batu.
Setelah Siraja Lontung bertemu dengan seorang gadis (Siboru Pareme) dan mencocokkan Tintin Sipajadi-jadi dan ternyata cocok, maka Siraja Lontung membawa Siboru Pareme ke Banua Raja untuk bertemu dengan Ibundanya agar Siraja Lontung dan Ibundanya pergi bersama ke rumah tulangnya, akan tetapi Siraja Lontung tidak bertemu dengan ibundanya. Siraja Lontung sudah mencari kesemua tempat yang biasa dikunjungi Ibundanya tetapi tidak ketemu jua. Karena sudah menunggu berhari-hari Ibundanya tidak muncul juga, akhirnya Siraja Lontung dan putri pamannya tidur bersama.
Lama kelamaan, Siraja Lontung pun mulai memahami apa yang terjadi. Ia akhinya menyadari bahwa wanita yang dikatakan Ibundanya putri pamannya adalah Ibundanya sendiri. Tapi karena sudah terjadi demikian tanpa sepengetahuannya, Siraja Lontung hanya terdiam merenungi apa yang sudah terjadi. Melihat Siraja Lontung sering melamun dan tidak pernah menanyakan hal itu kepada istrinya, Siboru Pareme dapat merasakan bahwa putranya, yang sekarang menjadi suaminya, sudah mengetahui kejadian tersebut.
Karena itu, Siboru Pareme mengajak Siraja Lontung ke suatu tempat di bawah Banuaraja. Ditempat itu terdapat beberapa batu, sehingga tempat itu disebut Matu Martindi dan ada juga yang menamainya Batu Marompa. Salah satu dari batu itu tampak lain. Jika warna batu lainnya adalah hitam, maka batu yang satu ini tampak putih. Besarnya pun sangat berbeda. Bagian atas batu ini rata dan sangat cocok untuk tempat duduk-duduk. Siboru Pareme mengajak Siraja Lontung naik ke atas batu tersebut. Disitulah Siboru Pareme mengatakan hal yang sejujurnya kepada Siraja Lontung. Disitu pula Siboru Pareme mencurahkan semua beban hati yang telah ditanggungnya selama ini yang belum pernah terungkap kepada siapapun, yakni bagaima ia diusir adik-adiknya dari Parik Sabungan, kampungnya, setelah ia mengandung Siraja Lontung. Pokoknya, dibatu itulah Siboru Pareme mangandunghon segala penderitaan hidupnya kepada Siraja Lontung, agar tidak ada satupun rahasia lagi diantara mereka, “patar songon indahan di balanga”. Yang dicurahkan Siboru Pareme bukan hanya kesedihan, tetapi juga janji yang diterima dari Ibunda, Sibasi Bolon, dan Ompu Mula Jadi Nabolon bahwa keturunan mereka akan seperti bintang dilangit dan pasir ditepi pantai banyaknya serta menyebar ke seluruh penjuru mata angin.
Untuk mengakhiri lembaran lama hidup mereka dan sekaligus membuka lembaran hidup baru sebagai istri-suami, Siboru Pareme mengajak Siraja Lontung mengucapkan sumpah yang tidak boleh dinodai. Isi sumpah itu adalah “Batu na met-met batu nabolon parsoburan ni Sitapi-tapi, mate na met-met mate nabolon unang adong siombus api”. Karena mereka berdua mengucapkan sumpah itu di atas batu besar ini dengan bulan sebagai saksi, maka disebutlah batu itu Batu Bolon Sitapi-tapi.
Mengapa bulan menjadi saksi? Karena Ibunda Siboru Pareme, yaitu Siboru Sakti atau Sibaso Bolon, berada disana setelah kembali ke Banua Ginjang. Sibaso Bolon sudah tidak bisa tinggal di kerajaan Ayahnya, Debata Batara Guru, karena Sibaso Bolon sudah bercampur dengan manusia. Tempat mereka adalah di bulan. Dengan demikian, sumpah itu diucapkan dengan Sibaso Bolon sebagai saksi. Itu pula salah satu sebabnya, mengapa ayahanda Siboru Pareme diberi nama Guru Tatea Bulan
Untuk pasangan Siboru Pareme dan Siraja Lontung mereka berpesan bahwa mereka bukan pasangan Suami-istri tetapi Istri – Suami karena Ibunda Siraja Lontung adalah Siboru Pareme, walaupun kemudian menjadi istrinya. Karena itu kedudukan Siboru Pareme harus tetap di sebelah kanan Siraja Lontung.
Pesan lain yang harus diingat oleh keturunan Siboru Pareme-Raja Lontung bahwa mereka adalah keturunan boru Parik Sabungan, bukan keturunan anak. Tuan Saribu Raja bagi Raja Lontung adalah Bapak bukan ayah (biologis)

0 komentar:

Post a Comment

;}

Google.com

Support

VIDEO

SPEKTAKULER