-->

SIPITUAMA

"Sistem Informasi Penyajian Ilmu Teknologi, Uni Akademis, dan Manajemen Administrasi"
Sedang Proses...Orang Sabar Banyak Rejeki, Complete 90%.... Tunggu...Loadingnya Hampir 100% ................................................... ..................... ......

Friday, 24 August 2018

Show Cause Meeting - SCM / Rapat Pembukitan


Rapat pembuktian (SCM) adalah pertemuan antara pemilik pekerjaan (PPTK/PPK), Kontraktor dan Konsultan Pengawas dalam rangka membahas keterlambatan pelaksanaan yang termasuk kategori kontrak kritis  dan mencari penyelesaian dalam mengatasi keterlambatan tersebut. Pembahasan dalam rapat tersebut mencakup semua aspek pelaksanaan kontrak termasuk : Manajemen, Bahan, Personil, dan Keuangan.

Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan dibagi dalam berbagai tingkatan, dan tiap tingkatan keterlambatan memberikan konsekwensi pada tingkat mana SCM harus disenggarakan yakni SCM tingkat proyek, SCM Tingkat atasan langsung dan SCM tingkat atasan. Pada kesempatan rapat tersebut pihak kontraktor diminta membuktikan kemampuannya untuk menyelesaiakan proyek sesuai ketentuan proyek.

Penelian dan evaluasi keterlembatan oleh tim rapat pembuktian dilakukan melalui uji coba kemampuan (Test Case) terhadap kontraktor, dalam hal ini adalah kemajuan fisik yang dapat dilakukan oleh kontraktor pada periode tertentu, dibandingkan dengan kesepakatan  tentang kamajuan fisik yang ditentukan dalam rapat pertemuan.

Kegagalan kontraktor dalam melaksanakan setiap tingkat uji coba berakibat pada keharusan dilakukan nya rapat pertemuan tingkat tinggi. Selanjutnya apabila kontraktor menyelesaikan uji coba terakhir (uji coba ketiga) maka dalam rangka  penyelamatan dan pengalam proyek, dapat ditempuh dua pilihan penyelesaian yakni :
  1. Melalui kesepakatan tiga pihak yaitu dengan melibatkan pihak kontrakotor lain untuk melanjutkan penyelesaian sisa pekerjaan, atau
  2. Melalui pemutusan kontrak
1. TUGAS TIM SCM
  • Menetapkan items, jadual dan volume yang harus dikerjakan oleh kontraktor dalam uji coba. Guna menilai layak atau tidaknya kontrakotor melanjutkan pekerjaan.
  • Menilai pembuktian dari pihak kontraktor kepada tim SCM tentang kemungkinan /Kesanggupan untuk masih dapat diberikan kesempatan guna mengatasi keterlambatan atau permasalahan pelaksanaan kontrak
  • Tim SCM tingkat proyek mengusulkan kepada atasan langsung  atau pejabat  yang terkait, tindak lanjut atas hasil evaluasi dari pelaksanaan uji coba oleh kontrakotor
  • Tim SCM tingkat atasan langsung mengusulkan kepada atasan tentang tindak lanjut atas hasil evaluasi dari pelaksanaan uji coba oleh kontraktor
2. JENJANG TANGGUNG JAWAB TIM SCM
  • Tim SCM tingkat proyek bertanggung jawab kepada atasan langsung atau pejabat terkait dengan melaporkan secara tertulis hasil pelaksanaan SCM
  • Tim SCM tingkat atasan langsung bertanggung jawab kepada atasan, dengan melaporkan secara tertulis hasil pelaksanaan SCM
  • Tim SCM atasan bertanggung jawab kepada pejabat eselon 1 terkait, dengan melaporkan secara tertulis hasil pelaksanaan SCM.
3. PROSEDUR RAPAT PEMBUKTIAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
  • Pada saat kontrak dinyatakan kritis PPK/PPTK menerbitkan surat peringatan kepada kontraktor dan selanjutnya menyelenggarakan rapat pembuktian atau Show Case Meeting (SCM) tingkat proyek.
  • Pada uji coba tingkat proyek, jika kontraktor gagal mencapai progres fisik yang telah disepakati, maka proyek menyerahkanurusan ini kepada insitusi yang lebih tinggi, yaitu harus diadakan SCM tingkat atasan langsung, jika pada SCM tingkat atasan langsung pun ternyata kontraktor gagal mencapai progres fisik seperti yang telah ditetapkan dalam SCMtersebut. maka urusan ini diteruskan ke insitusi yang lebih tinggi yaitu harus diselenggarakan SCM tingkat atasan
  • Pada setiap uji coba yang gagal,PPK/PPTK harus menerbitkan surat peringatan kepada kontraktor atas keterlambatan realisasi fisik pelaksanaan pekerjaan.
  • Apabila pada uji coba ketiga masih gagal, maka PPK/PPTK dapat menyelesaiakan pekerjaan melalui kesepakatan tiga pihak atau memutuskan kontrak secara sepihak dengan mengesampingkan pasal 1266 kitab undang-undang hukum perdata
4. ACARA DALAM SHOW CASE MEETING
  • Meneliti permasalahan yang menyebabkan proyek terlambat
  • Membahas upaya-upaya dan membuat kesepakatan untuk mengejar keterlambatan, kemudian kontraktor harus membuat pernyataan kesanggupan untuk memenuhin kesepakatan-kesepakatan tersebut
  • Membuat target uji coba kemampuan (Test Case) dalam waktu 1 bulan, dengan menyebutkan uraian pekerjaan yang harus dikerjakan dan persentase prestasi kerja yang harus dicapai
  • Membuat jadual pelaksanaan target uji coba  (test case) dan program scedule secara detail dan lengkap dengan data-data pendukungnya
  • Hasil dari  SCM harus dituangkan dalam suatu berita acara dan dikirimkan ke berbagai instansi / insitusi/pihak-pihakb terkait.
5. UJI COBA (TEST CASE)
  • Selama uji coba , PPK/PPTK melakukan pemantauan terhadap kegiatan kontrakotor
  • Apabila kontraktor ada tendensi menunjukkan hasil yang tidak sesuai kesepakatan, maka PPK/PPTK mengeluarkan surat peringatan dengan tembusan kepada Atasan langsung /PPK/PPTK
  • Pada akhir uji coba  kemampuan dilakukan evaluasi terhadap semua pencapaian selama uji coba kemapuan, dan bila diperlukan dapat dilakukan uji kemampuan lagi
  • Apabila sudah jelas bahwa kontraktor tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak , maka dapat dilakukan :\
  1. Kesepakatan tiga pihak  (Three Parties Agrement)
  2. Pemutusan kontrak (Contrac Termination)
6. KESEPAKATAN TIGA PIHAK
  • Kontraktor masih bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan sesuai ketentuan dokumen kontrak
  • PPTK/PPK menetapkan pihak ketiga sebagai peyedia jasa yang akan menyelesaikan sisa pekerjaan atau atas usulan kontraktor
  • Pihak ketiga melaksanakan pekerjaan denga menggunakan harga satuan kontrak, dalam hal pihak ketiga  mengusulkan harga satuan yang lebih tinggi dari harga satuan kontrak, maka selisih harga satuan menjadi tanggung jawab  kontraktor sesuai kesepakatan  antar pihak kontraktor dan pihak ketiga
  • Pembayaran kepada pihak ketiga dapat dilakukan secara langsung
  • Kesepakatan tiga pihak ditungkan dalam berita acara dan menjadi dasar pembuatan amandemen kontrak
  • Kesepakatan tersebut harus ditindaklanjuti dengan pembuatan amandemen kontrak yang ditandatangani oleh para pihak (PPTK/PPK. Kontraktor pertama dan Kontraktor pengganti).

Share:

Wednesday, 22 August 2018

Trik dan Tips Lolos Tes Kesehatan untuk melamar POLRI, TNI dan CPNS

Share:

Monday, 20 August 2018

Rencana Pemeriksaan Lapangan (Mutual Check) dan Review Design


Review Design merupakan suatu upaya (konsultan) untuk menyesuaikan produk original design (jalan atau jembatan) yang pelaksanaan konstruksinya tidak dimulai tepat waktu seperti yang dikehendaki di dalam perencanaan teknis. Prinsip dasar perencanaan teknis jalan (termasuk jembatan didalamnya) adalah penyediaan prasaraa jalan yang dapat dilalui lalu lintas pada umur rencana yang telah ditetapkan (awal dan akhir umur rencana telah ditetapkan), pada satu tingkat pelayanan tertentu dan juga MTS (Muatan Sumbu Terbesar) tertentu.

Prinsip dasar tersebut dijabarkan lebih lanjut ke dalam batasan-batasan teknis yang digunakan dalam penyiapan original design sebagai berikut :
  • Umur rencana jalan yang ditentukan awal dan akhirnya
  • Kapasitas jalan (lebar jalur lalu lintas, jumlah lajur, lebar bahu jalan, lebar median jika ada) yang menunjukkan kemampuan jalan dalam menampung volume lalu lintas  selama umur rencana berdasarkan level of service minimal yang ditentukan
  • Kelas jembatan yang dipilih, apakah kelas A, kelas B atau kelas C
  • Struktur perkerasan jalan yang diperhitungkan dengan mempertimbangkan kondisi tanah dasar, kondisi perkerasan lama, MTS yang dipilih (8 ton atau 10 ton)
  • Dokumen tender/ Kontrak yang mencantumkan volume pekerjaan berdasarkan pay item masing-masing pekerjaan
Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa sebagai akibat dari tertundanya pelaksanaan konstruksi, produk original design memerlukan koreksi-koreksi karena :
  • Kondisi perkerasan yang ada (mungkin sudah mulai timbul kerusakan-kerusakan) tidak sama dengan kondisi  perkerasan yang dijadikan dasar pertimbangan untuk menetapkan struktur perkerasan dalam original design
  • Hal diatas tentu akan mempengaruhi volume pekerjaan patching, pekerjaan leveling, atau barang kali bahkan jenis maupun tebal lapis-lapis perkerasan dalam original design  perlu dikaji ulang
  • Kondisi bangunan pelengkap jalan termasuk saluran-saluran drainase barangkali juga sudah mulai rusak sehingga berakibat menambah kerusakan badan jalan maupun lapis-lapis existing pavement
Perubahan-perubahan kondisi diatas perlu ditanggapi dengan review design sebab apabila hal ini tidak dilakukan maka berarti pekerjaan konstruksi  yang dilakukan berdasar kan atas design yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan jadi review design akan menghasilkan bill of quantity yang berbeda dibandingkan dengan bill of quantity yang ada dalam original design.

Proses untuk mencapai review design dilakukan melalui prosedur administratif dan prosedur teknis. Prosedur administratif harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ditetapkan oleh instansi terkait, jadi tidak diuraikan disini, sedangkan prosedur teknis, secara garis besar dapat digambarkan disini sebagai berikut :
  • Pengumpulan data dari original design
  • Survey lapangan yang dilakukan dalam korodor waktu mobilisasi
  • Melakukan review design berdasarkan hasil pengumpulan data dari 2 sumber diatas
1. Pengumpulan Data Dari Original Design
Pada prinsipnya pengumpulan data dimaksud dapat diambil dari dokumen kontrak yang ada serta perlu melakukan  koordinasi dengan unsur perencana. Adapun data-data yang perlu dikumpulkan adalah sebagai berikut :
  •  Data LHR, CBR dan Benkelman Beam Test yang digunakan pada saat penyiapan originall design
  • Data existing pavement dan rencana struktur pavement
  • Jenis tebal dan lokasi dari lapis sub base, base, surface
  • Daftar kuantitas dan harga satuan menurut pay item
  • Biaya kontrak
  • Typical cross section yang menggambarkan lebar perkerasan, jenis perkerasan, tebal perkerasan, CBR tanah dasar, dll

2. Survey Lapangan  Yang Dilakukan Dalam Koridoor Waktu Mobilisasi
Data yang diambil dalam survey lapangan sebagai berikut :
  • Pengumpulan data dengan menggunakan standar inventory RDS (Road Design Standart)  Guide Lines yang disederhanakan dan survey plan dan profil jalan, cross section , jembatan, drainase, dll
  • Survey/Inventory Geometrik Jalan (Gunakan form DL 31 -M- Lampiran) :
  1. Gorong-gorong (Lengkapi data perhitungan volume)
  2. Drainase (lengkapi data perhitungan volume)
  3. Bahu Jalan (Lengkapai data perhitungan volume)
  4. Kerusakan perkerasan aspal (lengkapi data perhitungan volume)
  5. Struktur jembatan dengan bentang <20 m (lengkapi dengan data perhitungan volume)
  6. Pekerjaan Tanah (lengkapi data perhitungan volume)
  7. Pengembaliankondisi dan pekerjaan minor
  • Survey struktur Perkerasan Jalan :
  1. Kekasaran permukaan jalan dengan metode NAASRA, RCI, IRI
  2. LHR
  3. Lendutan, Data CBR, Proof rolling
- Hasil survey Bankelman Beam Test
-Hasil Test DCP (Dynamic Cone Penetrometer)
-Hasil test proof rolling
  • Evakuasi Perubahan Volume Pekerjaan
  1. Pekerjaan major yang berubah menjadi minor
  2. Pekerjaan minor yang berubah menjadi major
3. Hasil Perhitungan Review Design
  • Out Put dari program RDS
  1. Traffic analysis- RDS ESA (Road Design Standart - Equivalnt Single Axle Load)
  2. Sorting Data -RDS SORT
  3. Graffic Unique section
  4. Pavement dimension
  • Grafik tebal Perkerasan :
  1. Menurut original design
  2. Menurut review design
  3. Alternatif pelaksanaan
  • Typical cross section
  1. Ditampilkan untuk setiap segmen yang berbeda struktur maupun tebal perkerasan
  • Rekapitulasi Volume dan Biaya
  1. Disajikan dalam tabel yang menunjukkan volume dan biaya per item pekerjaan

Share:

.............Radio Streaming.............


Add Request Song to Live Streaming

PERATURAN

GRATIS BERLANGGANAN

Isikan Alamat Email:

Berlangganan Gratis

PENDIDIKAN

SPEKTAKULER